Siapa sih yang enggak tahu kalau Indonesia masih perlu banyak belajar untuk open-minded? Untuk menerima kritik dengan lapang dada? Untuk membawa kritik menjadi sesuatu yang berguna? Bahwa kritik itu merupakan salah satu guru terbaik untuk ber-refleksi?
Seorang teman memasang status di FB mengenai hasil pertemuan yang baru di hadiri dengan dinas2. Tentu saja status ini mengundang banyak comment [termasuk aku]. Nah ternyata terjadi kehebohan. Singkat cerita teman memutuskan menghapus status tsb.
Kalau memang info di status itu salah, kenapa enggak ada orang dinas yang komentar? Yang klarifikasi? Kalau perlu langsung di status itu. Salah satu tugas kita sebagai masyarakat atau NGO kan untuk jadi partner dengan pemerintah. Kalau yang satu salah jalan, yang lain akan jadi teman untuk nunjukin jalan yang benar. Kalau jalan yang ditempuh salah, bukan berarti juga teman akan ninggalin kan? Tapi kalau salah jalan terus, dan enggak mau ngubris … akan jadi apa negara ini?
=======================================================================================
Sebenarnya rasa nasionalismeku hanya sedikit banget. Sebagian besar memang disebabkan karena aku orang minoritas yang sampai detik ini pun masih diwanti-wanti untuk jaga kelakukan oleh orang tuaku. Kalau perlu enggak terlalu banyak ngomong, dll, dll. Tapi terus terang saat ini aku benar2 mulai mencintai Indonesia. Benar2 menyadari betapa murah hati nya Tuhan dengan Indonesia. Tapi itu dalam konteks alam Indonesia. Kalau manusianya? Perasaan ku dengan sesamaku masih sama seperti dulu, bahkan sekarang lebih skeptik.
Tapi ya itu … cintaku terhadap indonesia membuatku enggak tega melihat otak2 busuk dan tangan rakus menjarah Indonesia tanpa hati nurani. Apa dong bedanya Indonesia sewaktu masih dijajah Belanda dan sekarang? SAMA SAJA. Dulu pembodohan dilakukan bangsa asing, sekarang dilakukan oleh saudara kita sendiri. Dan tentu saja sekarang lebih menyakitkan.
=======================================================================================
Kemaren teman bertanya, apakah aku mau kalau bekerja untuk perusahaan tambang/minyak. Dengan pasti aku menjawab MAUUUUU BANGET. Dia bertanya kembali, apakah enggak ada pertentangan dengan hati nurani? Aku jawab, kalau dulu mungkin iya, sekarang sama sekali enggak. Dulu aku bekerja untuk idealisme ku. Namun apa yang ku dapat? Kekecewaan. Saat ini aku masih berusaha utk bekerja dengan baik masih di jalur idealisku, dan apa yang ku dapat? Kekecewaan lagi. Kekecewaan melihat bahwa Indonesia makin terpuruk. Kalau dulu aku melihat kepurukan di level pusat, saat ini di level daerah dan bahkan sampai grass root. Memang tidak bisa mengeneralisasi semuanya. Namun in reality, kekecewaan yang kutemukan terlalu besar. Yang jelas aku memang egois, aku mau mencari kebahagianku. Aku serasa meninggalkan semua chaos untuk mencari ketenangan pikiran. Tapi kurasa, it is time for me to be very selfish. To think about my own sanity [at least].
Inilah yang aku kulakukan sekarang. Memikirkan apa yang pantas dipikirkan. Tapi bukan berarti aku akan sama sekali tidak peduli.
'za said,
October 2, 2009 @ 9:24 pm
sebenarnya kerja gue yang kayak kutu-loncat….setahun di sini, setahun di sana…datang juga dari kekecewaan. kadang gue pikir apa gue berlari dari permasalahan. awal tahun ini gue juga udah berpikir untuk cari duit ajah dan bukan idealisme…tapi ga tahu caranya. kembali lagi ke lingkaran ini, dan kemungkinan karena gue ga percaya diri keluar dari bubble ’sok idealis’ ini…hiks…what to do, what to do…
myladolcevita said,
November 9, 2009 @ 12:41 pm
aku br kerja di 3 tempat, tapi kok ya aku keluarnya selalu krn tempat kerja ku udh berubah jadi neraka. atau jangan2 aku jinx nya kali ya … hehehe …
kerja yg kali ini enak sebenernya … di surga selam, gaji lumayan, bos baik … tp situasi udh kayak neraka, gak begitu cocok dgn cr kerja pemda …
mungkin sudah waktunya menjadi kutu dan meloncat lagi?