Tragedi Komodo

28 Oct

Saat ini sering sekali mendapat fw di twitter atau media lain yang meminta untuk VOTE KOMODO untuk jadi the New 7 Wonders, dengan embel2 kita kalah suara dari Malaysia. Eh tapi cek di website New7Wonders kok Malaysia enggak ada tuh?

Pas awal2 nominasi Pulau Komodo, aku ikutan voting dong. Tapi setelah beberapa saat muncullah beberapa berita yang mengganggu.

Ada wacana mau memindahkan beberapa komodo ke pulau Bali karena komodo sudah makin punah. Orang bodoh yang mengusulkan ini mungkin tidak sekolah kali ya? Justru Komodo mau punah karena manusia penyebabnya. Komodo dari jaman dahulu kala sudah hidup disana, manusia sebagai tamu yang mengganggu kehidupan komodo disana. Lalu kenapa bukan manusia sebagai tamu yang angkat kaki? Lagian di bawa ke Bali yang bukan habitat asli komodo?

Ada lagi masalah soal pembayaran tarif masuk namun jagawana yang belum dibayar sehingga patroli sudah tidak dilakukan? Lah ini gimana toh? Padahal Pulau Komodo itu masuk dalam Taman Nasional loh.

Mungkin banyak yang beranggapan dengan TIDAK men-VOTE maka rasa nasionalisme kita kurang, rasa cinta tanah air kita kurang. Justru karena cinta stengah mati dengan alam Indonesia, maka saya memutuskan untuk tidak VOTE. Alasannya simple: Indonesia dan orang Indonesia belum siap. Konsekwensi setelah dicanangkan sebagai New 7 Wonders salah satunya adalah siap menghadapi serbuan turis. Sekarang saja Komodo sudah jadi mass tourism dimana kondisi alam bukan makin membaik namun makin memburuk.  Ecotourism enggak akan bisa jalan dan tetap disebut dengan nama Eco kalau dikaitkan dengan mass tourism. Mass tourism sering kali tidak mengindahkan yang namanya carrying capacity. Mass tourism cuma mengejar satu hal … “uang”.  Kenapa sih kita mengejar mass tourism, sedangkan kalau dengan tourism yang terbatas saja, local community sudah bisa hidup berkecukupan? Kenapa sih Indonesia maunya nama2 besar Hilton atau Grand Hyatt yang bercokol di tempat2 eksotis seperti Komodo atau Raja Ampat? Soal service mereka memag jago, tapi kalau soal lingkungan? Saya masih ragukan. Apakah konsep ekslusif tidak ada di mata orang Indonesia? Tidakkah mereka tahu bahwa entrance fee ke Galapagos sampai saat ini merupakan yang paling tinggi, dan jumlah turis amat sangat dibatasi, tapi yang antri mau ke Galapagos masih bejibun? Jadi “pembatasan” enggak sama loh dengan “menurunkan” keinginan orang untk berkunjung. Justru makin dibatasi, orang makin penasaran.

Lalu kenapa kita protes dengan iklan2 tourism Malaysia? Alasannya cuma satu: iri tanda tak mampu. Aku juga iri banget. Liat dong bagaimana Departemen Pariwisata Malaysia benar2 menganggap Tourism itu sebagai sektor yang paling penting dalam mendatangkan devisa sehingga kegiatan promosi mereka selalu berkesinambungan dan bagus banget. Ada iklan pariwisata Malaysia secara keseluruhan, namun ada juga iklan pariwisata daerah sepsifik seperti Langkawi, namun masih sejalan dengan iklan pariwisata Malaysia yang keseluruhan. Semua bisa diliat benang merahnya. Kalau Indonesia? Hmmmm …. uangnya abis buat jalan2 deh kayaknya :(

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.